Menyusuri lebih dalam lagi ke Desa Karangrejo, kembali ditemui adanya
benda cagar budaya, berupa Rumah Lurah Glondong yang dibangun pada tahun
1913. Lurah Glondong Karangrejo merupakan pemimpin Lurah atau Kepala
Desa se-Kecamatan Loano. Pada jaman kerajaan ratusan tahun lalu, hingga
akhir tahun 1960-an, Lurah Glondong populer dan disegani. Bahkan, ia
memiliki rumah dinas sendiri.Terakhir, jabatan Lurah Glondong dipegang
oleh Haji Tajib, sekitar tahun 1960-an.

Kini, masih tersisa sebagian bangunan tua rumah sang Lurah Glondong yang
kini dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata.Selain Rumah Lurah
Glondong, terdapat benda cagar budaya lain, yakni Kompleks Makam
Silencu. Dalam kompleks pemakaman itu, dimakamkan raga Pangeran
Dipokusumo. Pangeran Dipokusumo merupakan ahli strategi perang yang
menjadi kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam melawan pendudukan
Belanda, tahun 1825 hingga 1830. Pangeran Dipokusumo dimakamkan pada
tahun 1855. Selain itu, turut dimakamkan sejumlah pejuang serta ulama
yang hidup pada jaman perlawanan Diponegoro, seperti Kromoharjo, atau
Patih Purworejo pada tahun 1864.

Juga terdapat batu mitos bernama Watu Kendhit. Batu bulat yang memiliki
tonjolan melingkar pada bagian tengah itu dikenal sebagai 'batu tiban',
atau batu yang tidak diketahui asal usulnya. Bahkan, ada kepercayaaan,
jika berhasil menjengkalkan tangan pada lingkaran kendhit tanpa lebih
atau kurang, apa yang kita inginkan bisa terkabul. Bahkan, kompleks
pemakaman itu dipercaya sebagai markas pasukan Pangeran Diponegoro dalam
mengatur strategi perang. Ketika sudah sampai di Kompleks Makam
Silencu, berarti sudah terbuka jalan untuk menyusur hutan rakyat
Karangrejo. Hutan milik sejumlah warga dengan luas sekitar 171 hektare
itu sangat berarti bagi masyarakat setempat. Jika saja tidak ada hutan
rakyat, pasti warga Karangrejo akan menghadapi masalah kekurangan air,
seperti pernah terjadi sekitar 20 tahun lalu. Saat itu, Karangrejo
dikenal sebagai daerah yang gersang, tanahnya keras, hampir tidak ada
mata air. Namun, berkat perjuangan almarhum Mbah Daliyo, desa itu kini
hijau. Puluhan tahun lalu, Mbah Daliyo yang berprofesi sebagai penjual
minuman keliling selalu membawa bibit tanaman kayu setiap kali ia pulang
berjualan. Ia tanam pohon di perbukitan yang gersang. Meski pada
awalnya dicibir warga, lambat laun, langkah itu diikuti penduduk
setempat. Kini, bukit yang dulu gersang sudah disulap menjadi hutan yang
hijau dan menjadi penyedia air bagi ratusan warga, serta tempat
berkembangbiak spesies burung, serangga, dan reptil. Hutan itu juga
menjelma jadi kawasan hiking yang menantang, serya sejumlah olahraga
ekstrem, seperti rappeling dan panjat tebing Watu Semurub. Masyarakat
Desa Karangrejo juga merupakan kelompok yang menjunjung tinggi adat,
budaya serta kearifan lokal yang ada di dalamnya. Jika tidak, tentunya
kita tidak akan bisa melihat hijaunya ratusan hektare hutan rakyat.

Selain itu, budaya untuk menjaga tradisi juga diwujudkan dengan tetap
lestarinya Grup Kesenian Jathilan Turonggo Seto. Grup kesenian tari
rakyat yang dipercaya sudah muncul sejak ratusan tahun lalu itu, hingga
kini masih bertahan dan beregenerasi. Grup Turonggo Seto selalu siap
tampil menyambut kedatangan tamu ke Karangrejo. Selain itu, kelompok
pemuda dan anak-anak di Karangrejo juga membentuk grup penari Dolalak,
tarian khas Kabupaten Purworejo.
Penasaran dengan gambaran alam dan budaya Karangrejo? Jangan dulu!
Sebab, keindahan tidak hanya ada di Karangrejo saja. Masih banyak
potensi lain di desa-desa di sekitar Karangrejo, sepetri Desa Kalikalong
serta Kalisemo. Kalikalong yang terletak hanya satu kilometer dari
Karangrejo menyimpan keindahan alam serta tradisi. Potensi Kalikalong
adalah berdirinya sejumlah industry rumah tangga ‘mie soun’ atau mie
putih. Menariknya, mereka masih membuat mie soun tersebut secara
tradisional, dengan hanya tenaga manusia. Bahan bakunya juga khusus,
yakni dari tepung sagu batang pohon aren. Warga membuat sendiri tepung
sagu dengan menggiling dan memeras sari batang aren, serta memasak bahan
itu menjadi mie. Sementara itu, Kalisemo dikenal sebagai gudangnya
pande besi atau pembuat senjata tradisional, alat pertanian, serta
peralatan rumah tangga. Ada puluhan warga yang berprofesi sebagai pande
besi. Jika siang hari datang ke Kalisemo, telinga kita akan disuguhi
bunyi dentang besi dan palu yang saling beradu. Sungguh ramai! Selain
itu, di Kalisemo, nyali kita akan ditantang dengan berjalan melintasi
Jembatan Gantung Tempuran. Jembatan gantung dengan panjang sekitar 60
meter dan membentang di atas Sungai Bogowonto. Travelling menyusur
berbagai keindahan alam dan budaya itu dapat dinikmati dengan berjalan
kaki atau kendaraan roda dua. Atau pengelola Desa Ekowisata Karangrejo
akan menyiapkan sepeda yang khusus dipakai untuk pengunjung yang datang.